NYANYIAN NESTAPA
(tragedi malinkundang)
Awalnya hanya seonggok daging
Dengan tubuh yang mengikatnya
Hidup bersama perempuan berwajah jompo
Gubuk reyot dan alas berduri yang menampungnya
“mak, biarkan daku mencari sebatang nasi suap”
Ia pun berlari melintasi bentangan samudera
1 hari, 2 hari
1 minggu, 2 minggu
1 bulan, 2 bulan
1 tahun, 2 tahun
Ia telah menjadi pasak harta
Dengan perempuan mata anjing yang menemaninya
Dan pulang laksana bahtera nuh
Perempuan berwajah jompo
Menunggunya di pelupuk pantai
Namun, ia bersandiwara tak mengenalnya
Hanya karena perempuan mata anjing di sampingnya
Perempuan jompo menuai keadilah dari tuhan…
Tiba-tiba kakinya terasa dingin batu
Ingin bergerak, namun batu telah menguasainya
“ibu... Maafkan daku....”
Terlambat, kutukan telah menghampirinya
Madura, 26 September 2011
TARIAN KOTA PADANG
(refleksi gempa)
Anginmu berbisik
Bersahut-sahut bagai lempengan kaca
Tangannya mengoyak tiang langit
Kakinya berderap pasak bumi
Dan hujan yang tak pernah mati
Padang menari…
Bumi berdenyut nadi
Pohon-pohon berirama tasbih
Hingga tangisan menjadi bingkai, hingga!!
Rumah-rumah berdendang kematian
Padang menari…
Karena alam kontroversi
Manusia, rumah, pohon
Menjadi bangkai berserakan
Bagai taburahn permadani
Berselimut darah sengsara
Padang menari…
Mengapa..??
COBAAN ataukah BENCANA..??
Madura, 25 september 2011
RINDU KAMU,MA
Ma,
Gubuk senja itu telah tiba
Di belantara bayang-bayang waktu
Saat kau bangun sebagai pencakar langit
Dan kau letakkan di bawah 3 sayap
Tapi Ma,
Mengapa kau terbang
Bersama cengkerama lazuardi
Meninggalkan sayap-sayap itu
Ditepi-tepi daun rampai
Hingga sayap-sayap itu menangis
Dalam gusaran gugur daun
08 Desember 2010
BUKIT RINDU
Kau tahu bukit itu
Bukit yang menyimpan senyum
Di balik semak-semak bibirmu,
Ku coba merayapi bukit itu
Berharap cahaya suram
Mengantarku ke lembah
Menuju semak kanvas
Tentang dirimu
06 Desember 2010
SUARA RINDU
Ada suara yang memanggilmu
Dibalik lipatan bantal
Yang hadir dalam mimpi sepiku
Membuatku harus merayap
Disela-sela angin dinding
Meski tubuhku telah mati
Di terpa angina syakal
Namun, ku tetap memanggilmu
07 Desember 2010
SELENSA KATA
- Kakak.1
Shel, akan kau jadikan apa bulan itu
Tiada hari,
Kau menghiasinya di pekat senja
Bagai taburan pasir dalam langit
Meski kadang bulan itu tanpa cahaya
Kau isi cahaya itu dengan desah apimu
Shel, engkau akan kemana
Apakah engkau akan pergi ke langit merah
Membiarkan cahaya itu redup
Jangan Shel, bulan itu masihmerindukan cahaya
Yang kau berikan lewat kata
17 Januari 2011
SELENSA KATA
- Kakak.2
Mei, jangan menangis
Hanya karena ujung tak bertepi
Lantas itulah cambuk
Agar dunia tak lagi hitam
Oleh gelagap malaikat api
17 Januari 2011
KEPADA APA
Kepada apa
Harus ku tumpahkan rasa ini
Saat kau pecahkan dengan suaramu
Yang menanti oretan langit
Saat senja mengukirnya
Kepada apa
Serpihan ilalang
Akan ku jeratkan
Bersama syakal angin
Kepada apa
Taburan kata
Akan ku teteskan dengan pena
Karena bisikan badai
Telah menghempasnya
Bersama lukisan awan
Lalu…..
Kepada apa lagi
Batu itu ku terbangkan
01 Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar