Senin, 26 September 2011

Artikel


Antara Cinta Dan Kehidupan
            Bila kita membahas masalah cinta yang akan kita temui adalah sebuah pedebatan dan diskusi panjang yang tidak ada habis-habisnya, membicarakan masalah cinta sama halnya dengan membicaraka rasa sakit, lapar, dan suka duka kehidupan, kalau yang kita harap dalah jawaban dari “apakah cinta itu?”.persoalan cinta adalah persoalan yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, ia sangat dekat dengan kehidupan bahakan ia adalah kehidupan itu sendiri, jika di bahas dengan perspektif psikologi cinta jadi kaku kalau di perbincangkan dengan orang yang mengalaminya, ia menjadi persoalan yang sangat menarik, tetapi terkadang penuh rasa emosional. Anehnya, walaupun pesoalan cinta adalah persoalan yang sangat populer tiba-tiba ia menjadi masalah yang rumit jika di perdebatkan, cinta seperti setumpuk benang kusut yang nyaris tak bisa di urai, sangat ruwet dan jelimet apalagi jika di bahas dalam sebuah tulisan.
            Didalam buku-buku khususnya karya sastra, cinta di kemas dalam bentuk yang beragam. Dalam tradisi sastra Arab terdapat ghazal atau puisi cinta, juga madah yang berisi sanjungan terhadap seseorang, sastrawan terdahulu mengekspresikannya dalam berbagai genre, seperti kitab asmara ‘kama sutra’ dan di dalam khazanah sastra Inggris kita mengenal novel-novel romance atau nyanyian madrigal. Tetapi, harus kita akui dalam hal mengekspresikan cinta bangsa Arab-lah jagonya, mereka dapat memotret cinta kasih dengan kamera ber pixel tinggi bernama ketajaman mata batin dan kepekaan tinggi selera kebahasaan, sehingga lahirlah karya sastra berkualitas “supramemetis” seperti kisah klasik “:Laila Majnun” dan ”Kisah 1001 Malam”. Di Indonesia banyak kita jumpai karya-karya sastra klasik yang pada umumnya juga mengangkat tema cinta walaupun di bungkus dengan kisah yang tragis seperti “Siti Nurbaya” dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”.
            Menjelang abad ke-19, muncullah aliran romantisisme yang berkembang di Jerman, Inggris dan Prancis, para pengarangnya sangat idealis, mereka memandang dunia sejati sebagai dunia imajiner, kaum romantik akan melihat dunia mereka dari perspektif sebuah dunia yang maha sempurna, segala sesuatu yang ada di dalamnya berada dalam kesatuan yang seimbang dan harmonis seperti surga.
            Dalam islam manusia sebagai makhluk yang ‘hubbusy syahawaat’ yang mencintai sesama, mencintai anak-anaknya, panorama alam, musik dst. Cinta tidak pernah di larang oleh agama karena ia bersifat naluriah, instinktif dan alami. Akan tetapi, meskipun kita menyebut “cinta” untuk mewakili perasaan kita sebagai manusia seperti rasa suka, simpati, senang, iba dan juga kasihan. Cinta tetaplah selalu lahir dan muncul pengertian yang berbeda-beda, sebagaimana kutipan puisi Ach. Zainullah Syamsuri yang berjudul APA ITU CINTA?
Cerita ceria, setiap saat selalu indah rasanya
Menunda kemaksiatan, mengetahui dan mengerti
Tentang dia
Bukan awal untuk berpisah

            Namun, perlu kita garis bawahi ada sebagian hati yang tidak mengenal cinta, yakni hati yang keras seperti batu atau mungkin lebih keras, dan biasanya hati ini di miliki oleh penguasa yang lalim, pembunuh, penipu, pecundang dan mereka yang suka membantai. Yang mereka lakukan hanyalah menyakiti, merusak, menyayat perasaan orang lain sehingga menimbulkan keresahan, kesedihan dan ancaman. Mereka mengubah kehidupan menjadi rasa yang begitu pahit, karena mereka terbiasa hidup keras, permusuhan, persengketaan dan kebiadaban. Mereka bisa saja tampil dengan wajah yang begitu manis dan menawan, tetapi yang tersimpan dalam hati mereka adalah kekejian dan tipu muslihat, mereka menawarkan ide yang begitu sempurna akan tetapi dibaliknya penuh dengan makar, mereka bak api dalam sekam. Orang seperti inilah yang tidak memiliki cinta didalam hatinya, rasa iri, dengki, dendam dan permusuhan merupakan hal yang setia menemani kehidupan mereka, mereka ibarat orang yang mencuci pakaian bau dan apek lalu mereka mencucinya dengan air kencing, berharap rasa bau itu hilang malahan rasa bau yang semakin bertambah.
            Cinta yang sejati tidak akan dimiliki seseorang kecuali mereka yang telah memilki kematangan jiwa, sebab cinta itu sendiri mampu memberika pandangan secara global, pemahaman yang mendalam serta perasaan yang sempurna. Menurut Al-Ghazali “cinta laksana sebatang kayu yang baik, akarnya tetap di bumi dan cabangnya di langit. Getaran jiwa dan reaksi fisikal, seperti berkeringat atau gemetar atau menangis adalah akibat dari cinta, seperti asap yang merupakan akibat dari api dan buah bagi yang di akibatkan oleh pohon”, sayangnya cinta lebih kompleks dari pada api atau pohon, sebab kedua hal ini adalah dua benda yang kasat mata. Apakah api dan pohon? Memang sangat sulit untuk menjawabnya, akan tetapi mata telanjang mampu menunjuk bahwa api adalah seperti ini dan pohon adalah seperti itu.


PACARAN ISLAMI, ADAKAH?!!
            Istilah “pacaran” sudah tidak asing lagi kita dengar, karena ia sudah berkelut dalam kehidupan kita. Pacaran di timbulkan karena muncul rasa cinta dari seorang insan kepada lawan jenisnya, karena cinta bisa datang dari segala arah, lau berlebur menjadi satu dan membentuk singgasana dalam hati, dan ketika kita mendengar kata pacaran, pasti yang terlintas dalam benak kita adalah hal-hal yang tabu, jorok, hot dan lain-lain. Padahal kita sendiri belum mengenal lebih jauh apa arti pacaran itu..??, ilegal ataukah tidak..??, apakah dalam islam ada konsep pacaran..?? dan mungkin banyak pertanyaan-pertanyaan lain seputar pacaran.
            Dalam islam, pacaran sebenarnya bukan hal yang tabu. Ketika sahabat Mughirah bin Syu’bah menghadap Rasulullah SAW, dan memberitahukan bahwa dirinya akan menikahi seorang wanita Anshor, lalu nabi bertanya,” apakah engkau sudah melihatnya..??” Mughirah menjawab, “belum”, kemudian Rasulullah SAW bersabda,”lihatlah wanita yang hendak kau nikahi. Sesungguhnya melihat wanita yang akan di nikahi adalah hakmu”. Dari hadits di atas dapat di tarik benang merah, bahwa pacaran dalam islam mempunyai legalitas. Artinya pacaran itu hukumnya sah-sah saja apabila kita hendak membangun mahligai rumah tangga dan pacaran kita jadikan media Ta’aruf (perkenalan) agar kita bisa saling mengenal karakter masing-masing, islam memperkenalkan konsep khitbah (meminang) sebagai realisasi dari hukum di atas.
            Apacaran yang di perbolehkan dalam islam adalah dengan berbincang-bincang, duduk bersama, tanpa adanya sentuhan ataupun rabaan yang bisa membangkitkan nafsu seksual. Jika masih belum cukup, maka pihak lelaki di perbolehkan melihat berulang kali, tapi tetap pada batasan wajah dan kedua tangan saja, hal ini di maksud agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari. Dengan etika melihat raut muka, sudah cukup untuk menilai paras, sifat dan karakter pasangannya, sedangkan untuk melihat kesegaran, kehangatan dan kepadatan isinya cukup melihat kedua tangannya. Apabila seseorang mencintai pasangannya bukan karena landasan cinta, tetapi karena nafsu maka akan cenderung memperlakukan pasangannya ke arah fisik. Setiap bertemu inginnya mencium dan dicium, memeluk dan dipeluk dan lebih parah lagi kalau sampai melakukan hubungan SEX. Melihat dari kasus ini, maka pacaran yang karena nafsulah yang dilarang dalam agama islam, karena cinta yang wajar si cewek tak harus menyerahkan dirinya, dan si cowok tak harus memburu si cewek hanya untuk memuaskan nafsunya, kedua belah pihak harus saking menghargai dan menyayangi. Jangankan hubungan SEX, kita melihat saja dengan nafsu itu sudah dosa, apalagi sampai memegang tangan, mencium, memeluk lebih-lebih sampai berhubungan SEX. Naudzubilla Tsumma Naudzubillah.
            Dalam islam di jelaskan bahwa cinta itu suci dari Allah SWT semata, apabila kita mencintai sesuatu karena Allah SWT berarti melepaskan diri dari batasan-batasan eksternal dan internal yang telah mengkontraminasi fitrahnya, karena Allah SWT hanya menawarkan alternative bukan membatasi. Ternyata pacaran dalam islam di perbolehkan asal tidak menyimpang dari ajaran-ajaran islam (pacaran islami), kitalah yang belum mengamalkan pacaran islami itu, yang kita lakukan hanyalah pacaran yang menuruti hawa nafsu. Astaghfirullah!!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar