KEMANA
AKU HARUS MENCARIMU
Kau
tahu
Setiap
hembusan nafasku
Namamu
selalu berikrar dalam mulutku
Menyertai
lagu kerinduan
Untuk
dirimu yang telah meninggalkan
Jejak
rindu di kedalaman hatiku
Hingga
kini,
Bisikan
dan hiruk pikuk keberadaanmu
Telah
menghilang menyertai kepergianmu
Sedang
raungan rindu
Tak
henti meneteskan sebutir nama
Dan
sejarah dirimu
Duh,
bintang pagi
Kemana
aku harus mencari
Rindu
yang telah menghilang bersama dirimu
Dan
mencampakkanku dalam pecahan air mata
Ah…
Andai
saja aku mampu
Menisbahkan
rinduku padamu
Seperti
menasbihkan rinduku pada tuhanku
Karena
hanya dengan menyebut nama-Nya
Dahaga
kerinduanku pada-Nya telah terbasahi
Tapi
itu tak mungkin duhai bintang pagi
Kau
hanya hamba-Nya
Yang
tak selaras dengan penciptamu
"kemana
aku harus mencarimu"
Ya,
mungkin hanya inilah yang bisa ku lafadzkan
Pada
rindu yang telah menghapus jejakmu
Annuqayah, Maret 2012
DZIKIR-DZIKIR
RINDU
- Raihana
Kedamaian
telah menjelma kesunyian
Saat
dirimu tak lagi bersemayam dipucuk mimpi
Sedang
kobaran jiwa terus memekik rindu
Dan
lihatlah hati yang mulai gelisah
Menahan
birahi rindu pada hati yang telah pergi
Na,
Waktu
telah berlalu
Bersama
sajak-sajak kepergianmu
Yang
semakin deras meneteskan rindu
Sedang
dzikirku tak henti bertasbih
Dalam
namamu dan kerinduanku
Ingatlah
Na,
Matahari,
langit, pohon, tanah dan belaian angina
Masih
setia menjadi saksi bisu
Ketika
mataku melukiskan darah
Seirama
seruling ilalang menyanyikan lagu perpisahan
Saat
kau berucap
"aku
pergi hanya sebentar sayang"
Sekarang…
Apakah
kau merasa Na,
Rindu
telah menghantam diriku
Dan
bibirku hanya mampu mengeja segenggam kata
"kembalilah
Na, aku merindukanmu"
Annuqayah, Maret 2012
RINTIHAN
SEORANG PERINDU
-untukmu Ma
Ma,
Kau
telah melukiskan jejak 9 tahun lalu
Meninggalkan
tangisanku
Saat
masih setia dipangkuanmu
Kini,
kau tahu ma
Sejak
matahari mengisahkan
Sejarah
kehadiranmu
Relung
kerinduanku merintih
Seiring
nafas rindu menjelma namamu
Dan
tubuhku yang mulai menggigilkan kasihmu
Lantaran
hanya setitik cahaya
Kau
lafadzkan pada senandung kebisuanku
Lalu,
Malam
mencampakkanku
Diatas
buaian ranjang
Menemani
tangisku yang mulai pecah
Bersama
hembusan kerinduanku
Dan
berjanjilah ma,
Suatu
hari nanti
Kau
akan menjemput kembali
Puing-puing
rindu yang pernah kau titipkan ditubuhku
Annuqayah, Maret 2012
MAIRIL
Kau
memang laki-laki
Tapi,
tuhan menciptakan lain untukmu
Wajahmu,
Pipimu,
Senyummu,
Laksana
wanita dalam kanut senja
Yang
tak mungkin ku jenuh memandang
Bias
cahaya kehadiranmu
Dan
izinkanlah aku
Menciumi
jejak-jejak wajahmu
Membiarkan
tanganku menjamah pipimu
Dan
merelakan mataku nanar memandang senyummu
Seperti
yang pernah aku lafadzkan
Pada
perempuanku dulu
Tuhan
Aku
tahu ini menyalahi fitrah kuasa-Mu
Tapi
tuhan
Mampukah
hamba menahan raungan hati
Sedang
saban hari hamba tak bersama perempuan ciptaan-Mu
Dan
Aku
hanya menyayanginya tuhan
Bukan
mencintainya
Annuqayah, Maret 2012
KETIKA
SENJA MENYAPAMU
-untuk sahabat
Jangan
lagi kau tanyakan
Pernahkah
ku mengingatmu
Karena
nama dan sejarah kehadiranmu
Terus
menghiasi jejak hatiku,
Cahaya
fajar
Telah
ku bayangi bersama langkah
Dan
hangar bingar tawamu
Kini,
kabut senja telah menyapamu
Diambang
cerita matahari
Yang
mulai membisikkan lagu perpisahan
Antara
fajar yang ku lewati
Dan
senja yang akan kau jalani
Selamat
tinggal
Tunggulah
aku diujung pulau
Tempat
kita bertindih dan menyimpan
Kenangan
masa lalu
Sedang
aku harus melepas pagi
Untuk
meniti hari yang akan ku lalui
Bersama
birahi kesepianku
Annuqayah, Maret 2012
Pusara Nestapa
Derita mengakar ditubuhmu
Sejak kau masih berselimut darah
Hingga tangan dan kakimu
Dibalut kesengsaraan
Dan kau menapaki hidup
Dengan segala resah dan dahaga,
Namun semua itu tak kau hiraukan
Meski tangan dan kakimu hampa
Kau tak pernah menyerah pada kehidupan,
Saban senen
Kau bersuka riuh
Dalam gemerlapan orang-orang
Yang sibuk menelan kertas-kertas rupiah
Annuqayah,
Januari 2012
Geliat Tunanetra
Lihatlah mereka
Berjalan menopang tongkat
Dan menatap arah tanpa makna,
Siapakah yang membawa mereka
Menyusuri hidup tanpa kilatan cahaya?
Semua menjawab “takdir”
Karena,
Takdirlah yang menghempas mata mereka
Hingga tertimbun di rumput cahaya
Takdirlah yang membungkam bias sinar
Agar tak bertemu mereka,
Tapi, mereka tak pernah sirna
Akan kebuntuan hidup
Dan menyilaukan takdir
Yang melilit tubuhnya
Ruang
biru, Januari 2012
Hikayat Sepasang Jompo
Matahari masih saja berjalan
Memunguti sisa-sisa rintik kehidupan,
Sapaan sinarnya
Menjalari sebuah gubuk usang
Dan dihuni sepasang jompo
Yang tak lagi mencicipi gerak kehidupan,
Kakinya diam mengulas makna
Tubuhnya kekang dirayap usia
Namun,
Mereka masih menuai syukur tuhan
Karena hati dan pikiran mereka
Tak membuntuti usianya
Latee,
Januari 2012