Rabu, 25 April 2012

Puisi


KEMANA AKU HARUS MENCARIMU

Kau tahu
Setiap hembusan nafasku
Namamu selalu berikrar dalam mulutku
Menyertai lagu kerinduan
Untuk dirimu yang telah meninggalkan
Jejak rindu di kedalaman hatiku

Hingga kini,
Bisikan dan hiruk pikuk keberadaanmu
Telah menghilang menyertai kepergianmu
Sedang raungan rindu
Tak henti meneteskan sebutir nama
Dan sejarah dirimu

Duh, bintang pagi
Kemana aku harus mencari
Rindu yang telah menghilang bersama dirimu
Dan mencampakkanku dalam pecahan air mata
Ah…
Andai saja aku mampu
Menisbahkan rinduku padamu
Seperti menasbihkan rinduku pada tuhanku
Karena hanya dengan menyebut nama-Nya
Dahaga kerinduanku pada-Nya telah terbasahi
Tapi itu tak mungkin duhai bintang pagi
Kau hanya hamba-Nya
Yang tak selaras dengan penciptamu

"kemana aku harus mencarimu"
Ya, mungkin hanya inilah yang bisa ku lafadzkan
Pada rindu yang telah menghapus jejakmu

                        Annuqayah, Maret 2012


DZIKIR-DZIKIR RINDU
- Raihana

Kedamaian telah menjelma kesunyian
Saat dirimu tak lagi bersemayam dipucuk mimpi
Sedang kobaran jiwa terus memekik rindu
Dan lihatlah hati yang mulai gelisah
Menahan birahi rindu pada hati yang telah pergi

Na,
Waktu telah berlalu
Bersama sajak-sajak kepergianmu
Yang semakin deras meneteskan rindu
Sedang dzikirku tak henti bertasbih
Dalam namamu dan kerinduanku

Ingatlah Na,
Matahari, langit, pohon, tanah dan belaian angina
Masih setia menjadi saksi bisu
Ketika mataku melukiskan darah
Seirama seruling ilalang menyanyikan lagu perpisahan
Saat kau berucap
"aku pergi hanya sebentar sayang"

Sekarang…
Apakah kau merasa Na,
Rindu telah menghantam diriku
Dan bibirku hanya mampu mengeja segenggam kata
"kembalilah Na, aku merindukanmu"

                        Annuqayah, Maret 2012

RINTIHAN SEORANG PERINDU
                        -untukmu Ma

Ma,
Kau telah melukiskan jejak 9 tahun lalu
Meninggalkan tangisanku
Saat masih setia dipangkuanmu

Kini, kau tahu ma
Sejak matahari mengisahkan
Sejarah kehadiranmu
Relung kerinduanku merintih
Seiring nafas rindu menjelma namamu
Dan tubuhku yang mulai menggigilkan kasihmu
Lantaran hanya setitik cahaya
Kau lafadzkan pada senandung kebisuanku

Lalu,
Malam mencampakkanku
Diatas buaian ranjang
Menemani tangisku yang mulai pecah
Bersama hembusan kerinduanku

Dan berjanjilah ma,
Suatu hari nanti
Kau akan menjemput kembali
Puing-puing rindu yang pernah kau titipkan ditubuhku

                        Annuqayah, Maret 2012


MAIRIL

Kau memang laki-laki
Tapi, tuhan menciptakan lain untukmu
Wajahmu,
Pipimu,
Senyummu,
Laksana wanita dalam kanut senja
Yang tak mungkin ku jenuh memandang
Bias cahaya kehadiranmu

Dan izinkanlah aku
Menciumi jejak-jejak wajahmu
Membiarkan tanganku menjamah pipimu
Dan merelakan mataku nanar memandang senyummu
Seperti yang pernah aku lafadzkan
Pada perempuanku dulu

Tuhan
Aku tahu ini menyalahi fitrah kuasa-Mu
Tapi tuhan
Mampukah hamba menahan raungan hati
Sedang saban hari hamba tak bersama perempuan ciptaan-Mu
Dan
Aku hanya menyayanginya tuhan
Bukan mencintainya

                        Annuqayah, Maret 2012

 
KETIKA SENJA MENYAPAMU
                        -untuk sahabat

Jangan lagi kau tanyakan
Pernahkah ku mengingatmu
Karena nama dan sejarah kehadiranmu
Terus menghiasi jejak hatiku,
Cahaya fajar
Telah ku bayangi bersama langkah
Dan hangar bingar tawamu

Kini, kabut senja telah menyapamu
Diambang cerita matahari
Yang mulai membisikkan lagu perpisahan
Antara fajar yang ku lewati
Dan senja yang akan kau jalani

Selamat tinggal
Tunggulah aku diujung pulau
Tempat kita bertindih dan menyimpan
Kenangan masa lalu
Sedang aku harus melepas pagi
Untuk meniti hari yang akan ku lalui
Bersama birahi kesepianku

                        Annuqayah, Maret 2012

Pusara Nestapa

Derita mengakar ditubuhmu
Sejak kau masih berselimut darah
Hingga tangan dan kakimu
Dibalut kesengsaraan
Dan kau menapaki hidup
Dengan segala resah dan dahaga,
Namun semua itu tak kau hiraukan
Meski tangan dan kakimu hampa
Kau tak pernah menyerah pada kehidupan,
Saban senen
Kau bersuka riuh
Dalam gemerlapan orang-orang
Yang sibuk menelan kertas-kertas rupiah

                                    Annuqayah, Januari 2012

Geliat Tunanetra

Lihatlah mereka
Berjalan menopang tongkat
Dan menatap arah tanpa makna,
Siapakah yang membawa mereka
Menyusuri hidup tanpa kilatan cahaya?
Semua menjawab “takdir”
Karena,
Takdirlah yang menghempas mata mereka
Hingga tertimbun di rumput cahaya
Takdirlah yang membungkam bias sinar
Agar tak bertemu mereka,
Tapi, mereka tak pernah sirna
Akan kebuntuan hidup
Dan menyilaukan takdir
Yang melilit tubuhnya

                        Ruang biru, Januari 2012


Hikayat Sepasang Jompo

Matahari masih saja berjalan
Memunguti sisa-sisa rintik kehidupan,
Sapaan sinarnya
Menjalari sebuah gubuk usang
Dan dihuni sepasang jompo
Yang tak lagi mencicipi gerak kehidupan,
Kakinya diam mengulas makna
Tubuhnya kekang dirayap usia
Namun,
Mereka masih menuai syukur tuhan
Karena hati dan pikiran mereka
Tak membuntuti usianya

                        Latee, Januari 2012



 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar