Akankah Cinta Bisa Membuat Kita Buta??
Masih dalam lingkup cinta yang saya bahas, karena cinta merupakan problematika yang tak di temukan ujung pemecahannya atau seperti teka-teki yang kehilangan jawaban, sehingga sulit menjawabnya kembali. Cinta merupakan hal yang abstrak karena ia tak kasat mata, cinta timbul dari hati dan apabila kita sedang di landa cinta maka sekujur tubuh kita akan merasakan perubahan yang kongkrit seperti rasa gelisah dan kan merasa malu kalau menceritakan kepada teman kita, apalagi sampai di tolak cinta, perubahan yang tampak drastis akan terjadi pada kita, benar kan..??. orang yang sedang jatuh cinta biasanya memang cenderung “BUTA”. Nyatanya, cinta dapat membutakan seseorang terhadap realitas, ia tidak dapat melihat apapun secara nyata, secara objektif. Cinta itu buta dan tak pandang bulu, kalau kita sudah dibutakan oleh cinta, yang jelek bisa jadi cantik, yang hitam bisa jadi putih. Kalau kita dihadapkan pada sebuah pilihan terhadap warna hitam, putih dan kuning pada burung, bisa saja kita memilih warna hitam ataupun putih, karena kebetulan warna itulah warna kesukaan kita, atau kita akan mengatakan burung yang indah itu yang berbulu tiga warna, karena demikian burung yang kita suka.
Kalau kebutaan ini terjadi pada seorang hakim akan fatal akibatnya, apa jadinya jika dia hanya melihat terdakwa pada satu sisi dan sisi yang lain telah dibutakan oleh “cinta”(misalnya uang sogok atau keluarga sendiri). Hakim atau juru pengadil lainnya yang seharusnya bersikap adil akan sangat rentan kejujurannya ketika sedang jatuh cinta, bukan karena posisinya yang benar, melainkan karena uangnya atau malu karena keluarga sendiri, uang sogokan dapat membuat seseorang jatuh cinta mendadak, sekalipun cintanya hanya semata-mata karena uang, artinya pada saat itu sesungguhnya ia adalah seorang “BUTA”.
Sebagai homo sapiens, ulul albab, ulin nuha yang di bekali akal agar berfikir dan di bekali hati agar menimbang, manusia akan mudah kehilangan sifat itu manakal ia sedang jatuh cinta.
Pada saat jatuh cinta kita sesungguhnya tengah mengalami problematika internal, berselisih dengan diri sendiri dan bertentangan dengan rasionalitas. Kita tengah ditantang untuk lebih bersikap dewasa dalam menyikapi perasaan tersebut, karena kita tengah berhadapan dengan konflik batin yang menggebu-gebu. Konflik batin ini akan berkepanjangan seiring emosi yang mengaduk-aduk perasaan. Dalam menyikapi kenyataan di atas, kita butuh kesiapan mental penuh untuk mengahadapinya, disini ada dua resep yang mungkin dapat kita jadikan antisipasi awal.
Pertama, apabila kita sedang di hadapkan pada sebuah persoalan, jangan pernah memikirkannya hanya sendiri, carilah tempat lain sebagai curahan, persoalan emosi apalagi urusan cinta. Andai pun keluh kesah tak dapat membantu menyelesaikannya, setidaknya bisa mengurangi beban di pikiran.
Kalau kita tipe orang yang introvert (tertutup) biasanya enggan dan emooh untuk menceritakan kepada orang lain. Carilah orang yang kamu percaya, misalkan orang tua, guru, sahabat atau teman, kalau kita malu menceritakan pada mereka ceritakanlah pada buku diary atau agenda, karena mereka tak kan bohong, mereka akan merekam apa yang telah kamu ceritakan (tulis) padanya.
Kedua, jika kita kesal karena SMS di- pending, ponselnya tidak dapat di hubungi, inbox e-mail nggak ada yang baru atau kekesalan lain yang membuat kita emosi , maka jangan biarkan kekesalan itu menghasut pikiran kita, bila kita tengah berhadapan dengan masalah seperti itu yang harus kita adalah mengalihkan perhatian dengan membaca buku, cerita fiksi atau bahkan kalu perlu komik. Satu kata kunci : alihkan perhatian.
Kedua resep di atas mungkin bisa membuat kita lebih fresh dan lebih dewasa dalam menyikapi sebuah persoalan, apalagi persoalan cinta. Saat kita tengah berbicara atau sedang nelfon sama kekasih kita, yang kita rasakan bahgia bukan..?, apabila ada orang lain atau orang tua yang menyapa kita, mungkin tak akan kita perdulikan, kita merasa di dunia hanya ada kita berdua, karena pada saat itu cinta tengah membutakan dan mensugesti pikiran kita, kita memang tak pernah merasa tapi itulah realitanya. Jadi, janganlah kita di butakan oleh cinta karena cinta ke sesama manusia bukanlah cinta sejati, tapi hanyalah cinta fatamorgana. Ingat, cinta yang sejati hanyalah kepada tuhan.
Efek Media Bagi Remaja (Masa Kini)
Kita hidup di era informasi, dimana setiap hari kta basah kuyup oleh banjir media, suara, gagasan, dan sensasi, dan sebelum kita mencerna gagasan yang kita dapat kita sudah di terpa badai gagasan yang lain. Memang nggak bisa dikatakan semua media bagus atau jelek, tapi dari semua jenis media -televisi, film dan industri musik- tak pelak lagi mempunyai pengaruh bagi remaja masa kini, karena remaja sekarang cenderung terbawa oleh arus dan gaya dunia baru yang sering di tayangkan di media. Sasaran media atau industri saat ini bukanlah untuk mencari manfaat tetapi untuk meraih untung besar dan berkompetisi agar selalu menjadi teratas dari media lain. Usaha itu adalah suatu keharusan untuk memberika sesuatu yang baru, menarik, dan spektakuler untuk memengaruhi publik. Saat ini bisnis-bisnis di menia sudah tidak memperhatikan norma agama, yang mereka pikirkan adalah bagaimana produk-produk mereka mempunyai pengaruh bagi sebagian besar masyarakat sehingga produk itu terkenal. Dari tujuan diatas mereka berupaya meracik resep yang bisa mengais sukses, dimana kekerasan, sex, dan gaya-gaya erotik sering di tampilkan sebagai penghibur, sehingga produk mereka terkenal dan menghibur.
Sekarang, apa yang terjadi jika di suatu media atau industri di kritik atas taktik yang digunakan, mereka hanya akan menjawab “kami hanya memenuhi keinginan publik” atau “kami hanya cermin masyarakat”, pada dasrnya, mereka mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia kita sudah membusuk dan kita harus pergi menuju ekstrem baru dalam segala hal yang kita lakukan.
Di media –buku, majalah, film, acara TV dan musik- juga memberikan pengaruh pandangan yang disebut citra, baik secara halus maupun terang-terangan, mereka mencoba memberi tahu apa yang sedang populer dan apa yang harus di abaikan. Masalahnya adalah, sebagian orang mempercayai tipu muslihat tersebut dan membiarkan melebihi batas kewajaran, dan juga bagi anak-anak, karena anak-anak adalah penyerap informasi, mereka akan menyerap apa saja informasi yang ada di lingkup mereka, seringkali tanpa mengerti apa makna sebenarnya. Anak-anak dan remaja adalah peniru yang hebat, mereka akan meniru gaya-gaya dan ekstrem baru yang mereka lihat atau dengar dari media, yang baik maupun yang buruk.
Masalah lain muncul terhadap citra yang ditampilkan pada orang dewasa tapi di tayangkan bebas tanpa batas. Orang dewasa bisa saja melihat tipu muslihatnya dan memilih yang bijak berdasarkan pengalamannya, tapi bagi remaja akan mudah terbawa arus. Orang dewasa akan memilih mematika TV, tidak membeli cd ataupun menolak untuk di mintai berlangganan majalah, dan bagi remaja, even-even seperti ini akan dijadikan pandangan yang menurut mereka menghibur. Yang lebih buruk lagi apabila yang di tayangkan media adalah citra seksual dan kekerasan yang mempengaruhi anak-anak dan orang dewasa secara negatif.
www.telanjangipikiranku.co.cc/2011/10/cinta-itu-tidak-buta-tapi-bisa.html
BalasHapusKalo sempet kunjungi blog ku ya :)